Friday, December 25, 2015

Malam Si Bintang Terang

Tak ada malam seindah 
malam si Bintang terang

Yang bersinar paling cerlang
di malam Yang lengang

Mengundang Majus
baca pertanda 
Membuat sang raja 
murka mencari muka

Malamnya si Bintang terang
Berkelap kelip Dalam senyap
Berpendaran ketika orang lelap
Kemudian terdengar...
Tangis bocah yang memecah 
Haru ayah bunda yang membuncah

Tak ada malam seindah 
malam si Bintang terang
Yang bersinar paling cerlang
di malam Yang lengang

Itulah malam ketika Tuhanku merendah
Mengambil rupa seorang hamba
Menangis bayi dalam nestapa
Terkungkung Daging sementara
Terjerat waktu yang fana
Tak bisa apa-apa

Tuhan yang seharusnya berkuasa
Jadi sama dengan manusia
Hanya supaya kita
Bisa kembali ke surga

Masihkah kau bertanya
Untuk siapa malam berBintang terang? 
Di malam para majus berbilang?

Untuk siapa Tuhan merunduk 
Dan memerangkap diri dalam 
Tubuh yang terkutuk?

Kalau masih kau tak percaya
Maka mungkin Natal ini cuma sekadar pesta
Yang sebentar saja 
kemudian kau lupa

Lalu apa gunanya kita bicara?

Deddy Sinaga
7 des 2015

Tuesday, December 08, 2015

Malam Satu Bintang

Tak ada malam seindah 
malam satu Bintang

Yang bersinar paling terang 
di malam Yang lengang

Mengundang peziarah
baca pertanda 
Membuat sang raja 
murka mencari muka

Malam satu-satunya Bintang
Berkelap kelip Dalam senyap
Berpendaran ketika sudah waktunya
Tangis bocah yang memecah 
Haru ayah bunda yang membuncah

Tak ada malam seindah 
malam satu Bintang
Yang bersinar paling terang 
di malam Yang lengang

Itulah malam ketika Tuhanku merendah
Mengambil rupa seorang hamba
Menangis dalam nestapa
Terkungkung Daging sementara
Terjerat waktu yang fana
Tak bisa apa-apa

Si Tuhan yang seharusnya berkuasa
Jadi sama dengan manusia
Hanya demi supaya kita
Bisa kembali ke surga

Masihkah kau bertanya
Untuk siapa Bintang terang 
Di malam para majus berbilang?

Untuk siapa Tuhan merunduk 
Dan memerangkap diri dalam 
Tubuh yang terkutuk?

Kalau masih kau tak percaya
Maka Natal ini cuma sekadar pesta
Yang sebentar saja tiada

Lalu apa gunanya kita bicara?

Deddy Sinaga
7 des 2015

Wednesday, August 12, 2015

Pelan-Pelan Saja

Kehilanganmu telah menggerogoti jiwaku..
Tapi untuk meninggalkanmu, seperti mencabut jiwaku.

Biarkanlah kupu-kupuku..
Bintang mu ini meredup, lalu mati
Pelan-pelan saja..

Sedang kau,
Kejarlah langit bahagiamu
Supaya taman ini pun tetap semarak
Dalam kenangan-kenangannya

Sebelum ia pun mati
Bersama waktu
yang menyiksa
dan kesepian yang membunuhnya
pelan-pelan

Lalu kita pun
menjadi sebuah ketiadaan..
Kenangan, yang tak sanggup untuk kuingat
Sebab, ia telah menghanguskanku
Pelan-pelan..

Camar, pada kupu-kupu.. 12 Agustus 2015

Thursday, August 06, 2015

Mencintaimu..

Mencintaimu adalah hal terindah
Juga terberat
Yang pernah kulakukan seumur hidup ini
Cobalah mengingat, memundurkan waktu
Dan di sana kau temukan kebenaran itu.

Aku tahu, perkatakanlah apa saja
Cinta ini benar adanya
Tak bisa kunafi
Tak bisa kuhindari
Semakin ku jauhi, semakin ku dekat padanya

Maafkanlah
Jika cinta ini seperti langit dan bintang
Pada malam-malam yang sepi
Tapi tak pernah kusesali
Pertama kali kupeluk dirimu
Di dinginnya puncak Suryakencana
Dan perjalanan menanti sang fajar
Dulu

Juga hari-hari yang kemudian
Satu demi satu, kisah mengalir
Ada yang bahagia, ada yang meluka
Ada yang terharu, ada yang merana
Ada tawa, pun amarah
Tapi tanpa itu semua,
Tak bisa kuyakini
Bahwa cinta lah ini sebenarnya

Lalu, entah bagaimana
Sang kala mulai mencabik-cabik hati
Tergugu kita pada kenyataan
yang sama tak bisa dinafinya
Bagaimana meniti jalan sesempit itu?
Tanpa ada kemungkinan bersisian?

Aku tak tahu sayangku
Sejak dulu, kalau kau tanya
Aku cuma bisa tertunduk malu

Maka, izinkanlah aku terus mencintaimu
Dalam ketiadaanmu
dalam kesesakanku
Sampai nanti waktu yang menyembuhkan
Mungkin akan lebih baik
Atau mungkin juga tidak
Tapi perdamaikanlah aku
Dengan rasa pahit ini.
Supaya tetap hari ini bisa berharap..
Entah pada apa. Berharap saja.

7312, kantorku.
Untuk seseorang.. satu dekade yang jadi langit untuk aku, bintangnya.





Tuesday, February 24, 2015

Berjanjilah

Berjanjilah bahwa besok akan lebih baik dari hari ini
Supaya tak merana hati dalam kesedihan yang setia

Kekuatan itu seperti segumpal daging
Sebatas waktu sebelum membuatnya membusuk

Atau harapan itu seperti embun
Sekejap tergugu ketika matahari terbahak

Dalam diam ini aku menghitung waktu
Sampai kapan sanggup?

24 Februari 2015
7312